Museum Geologi

Sejarah
Museum Geologi terletak di Jalan Diponegoro No. 57, Kota Bandung, Jawa Barat. Museum yang menyimpan dan mengelola berbagai macam materi geologi ini telah berdiri sejak zaman penjajahan Belanda, tepatnya tanggal 16 Mei 1929. Adapun tujuan pendiriannya berkaitan erat dengan sejarah penyelidikan geologi dan tambang di wilayah Nusantara oleh para ahli geologi bangsa Eropa yang dimulai sejak pertengahan abad ke-17 hingga timbulnya revolusi industri di daratan Eropa pada pertengahan abad ke-18.

Bangsa Belanda (salah satu negara di Benua Eropa) yang waktu itu berkuasa di tanah air, tentu saja sangat membutuhkan bahan tambang sebagai bahan dasar industri di negerinya sendiri. Oleh karena itu, mereka kemudian membentuk sebuah lembaga pada tahun 1850 bernama Dienst van het Mijnwezen yang bertujuan untuk melakukan penyelidikan geologi dan sumberdaya mineral.

Dienst van het Mijnwezen yang pada tahun 1922 berganti nama menjadi Dienst van den Mijnbouw ternyata sangat serius melakukan tugasnya dengan mengumpulkan berbagai macam batuan, mineral, fosil, laporan dan peta sehingga memerlukan tempat khusus untuk penyimpanan dan penganalisisan lebih lanjut dari bahan-bahan temuan tersebut.

Sebagai jalan keluarnya, mereka lalu membangun sebuah gedung tempat penyimpanan di Rembrandt Straat Bandung yang rancangannya digarap oleh Ir. Menalda van Schouwenburg dengan gaya art deco. Pembangunannya memerlukan waktu selama 11 bulan dengan 300 orang pekerja dan menghabiskan dana sekitar 400 Gulden. Sedangkan peresmiannya dilakukan pada tanggal 16 Mei 1929, hampir bertepatan dengan penyelenggaraan Kongres Ilmu Pengetahuan Pasifik ke-4 (Fourth Pacific Science Congress) di Bandung pada tanggal 18-24 Mei 1929. Gedung itu kemudian dinamakan Geologisch Laboratorium.

Saat Jepang menguasai Indonesia, pada tahun 1942 pihak Pemerintah Kolonial Belanda terpaksa menyerahkan kekuasaan teritorialnya termasuk di dalamnya gedung Geologisch Laboratorium melalui Letjen H. Ter Poorten (Penglima Tentara Sekutu di Hindia Belanda) kepada pihak Jepang yang diwakili oleh Panglima Tentara Jepang, Letjen H. Imamura di daerah Kalijati, Subang. Oleh Jepang Gedung Geologisch Laboratorium diganti namanya menjadi Kogyo Zimusho dan setahun kemudian diganti lagi menjadi Chishitsu Chosacho.

Setelah bangsa Indonesia merdeka, Gedung Chishitsu Chosacho diambil alih dan pengelolaannya berada dibawah Pusat Djawatan Tambang dan Geologi (PDTG). Namun ketika tentara Belanda (NICA) datang lagi dengan membonceng Amerika Serikat dan Inggris, mereka berusaha menguasai kembali Chishitsu Chosacho pada 12 Desember 1945 yang menewaskan seorang pemuda bernama Sakiman, sehingga kantor PDTG terpaksa dialihkan atau dipindahkan ke Jalan Braga No. 3 dan 8.

Namun, kepindahan ke Jalan Braga ternyata tidak berlangsung lama karena sejak Desember 1945 hingga Desember 1949 terjadi pertempuran antara rakyat Indonesia melawan pasukan Belanda di berbagai daerah yang membuat kantor PDTG harus berpindah-pindah dari Bandung – Tasikmalaya – Magelang – Yogyakarta untuk menyelamatkan dokumen-dokumen penting hasil penelitian geologi. Dalam usaha menyelamatkan dokumen tersebut, pada tanggal 7 Mei 1949 Arie Frederik Lasut yang saat itu menjabat sebagai Kepala Pusat Djawatan Tambang dan Geologi diculik dan dibunuh oleh tentara Belanda di Desa Pakem, Yogyakarta.

Setelah situasi politik dan keamanan di Indonesia terkendali, tahun 1950 kantor PDTG kembali lagi ke Geologisch Laboratorium dan berganti nama menjadi Djawatan Pertambangan Republik Indonesia (DPRI). Nama DPRI tidak bertahan lama dan beberapa kali diganti hingga sekarang menjadi Pusat Survei Geologi. Nama-nama tersebut adalah: Djawatan Pertambangan Republik Indonesia (1950-1952), Djawatan Geologi (1952-1956), Pusat Djawatan Geologi (1956-1957), Djawatan Geologi (1957-1963), Direktorat Geologi (1963-1978), Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi (1978-2005), dan Pusat Survei Geologi (akhir 2005 sampai sekarang).

Selain nama yang berganti-ganti, status museum pun juga berganti. Pada tahun 2002 melalui Kepmen No. 1725 tahun 2002 status museum yang tadinya Seksi Museum Geologi menjadi Unit Pelaksana Teknis (UPT) di lingkungan Balitbang Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Tiga tahun kemudian (akhir 2005), status UPT Museum Geologi berada dibawah Badan Geologi bersamaan dengan terbentuknya Badan Geologi sebagai Unit Eselon I di lingkungan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral.

Visi dan Misi
Visi dan misi Museum Geologi adalah mewujudkan sumber informasi berupa dokumentasi koleksi dan warisan geologi Indonesia yang profesional untuk masyarakat. Adapun misinya adalah: (1) memperagakan dan mengkomunikasikan koleksi museum; (2) menyediakan informasi dan materi edukasi geologi; (3) mendokumentasikan dan mengkonservasi koleksi museum; (4) melakukan penelitian koleksi dan pengembangan museum; (5) melakukan pameran museum dan geologi; (6) melakukan penyuluhan dan sosialisasi geologi; (7) melakukan kerja sama dengan instansi dan sekolah; (8) melakukan pengelolaan museum secara profesional; dan (9) memberkan pelayanan jasa permuseuman.

Tugas Pokok dan Fungsi
Tugas pokok Museum Geologi adalah sebagai penunjang dan operasional untuk melaksanakan penelitian, pengembangan dan konservasi serta memperagakan koleksi geologi. Sementara fungsinya adalah: (1) penyiapan rencana dan program penelitian, pengembangan, konservasi, peragaan dan publikasi koleksi geologi; (2) pelaksanaan pengelolaan dan pengembangan dokumentasi; (3) pelaksanaan pengelolaan dan pengembangan peragaan; (4) pelaksanaan penelitian dan pengembangan serta publikasi; (5) pelaksanaan dan pengembangan kerja sama serta pelayanan jasa permuseuman; (6) pelaksanaan ketatausahaan, kepegawaian, keuangan dan rumah tangga; dan (7) evaluasi pelaksanaan rencana dan program penelitian, pengembangan, konservasi, peragaan dan publikasi koleksi geologi.

Sturktur Organisasi Museum Geologi
Struktur organisasi Museum Geologi telah diatur melalui Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (KepMen ESDM) Nomor 1725 tahun 2002 terdiri dari Sub Bagian Tata Usaha, Seksi Peragaan, Seksi Dokumentasi, serta Kelompok Fungsional. Setiap struktur yang bertanggung jawab kepada Kepala Museum Geologi tersebut memiliki tugas dan fungsinya masing-masing.

Misalnya, Sub Bagian Tata Usaha bertugas melaksanakan, menyiapkan bahan penyusun program dan laporan, urusan ketatausahaan, kepegawaian, keuangan serta rumah tangga. Untuk itu, Sub Bagian Tata Usaha dibagi lagi menjadi empat Kelompok Kerja atau Pokja, yaitu: Pokja Penyusunan Program, Pokja Kepegawaian, Pokja Keuangan, dan Pokja Rumah Tangga.

Adapun Seksi Peragaan yang berhubungan secara langsung dengan masyarakat, bertugas memelihara peragaan yang telah ada, melakukan pengembangan peragaan, dan menyampaikan informasi geologi sesuai dengan tingkat pendidikan pengunjung. Seksi Peragaan ini terbagi menjadi dua Kelompok Kerja, yaitu: Pokja Pelayanan Pengunjung dan Pokja Program Pengembangan Peragaan dan Edukasi.

Sedangkan Seksi Dokumentasi bertugas untuk mendokumentasikan koleksi geologi yang terdiri dari batuan, mineral, fosil, dan dokumen lainnya yang dianggap sangat berharga bagi sejarah dan perkembangan ilmu geologi. Cara pendokumentasiannya adalah dengan pembersihan koleksi secara khusus, pembuatan preparat untuk penelitian, serta penyimpanan koleksi sebagai database museum. Untuk memperlancar tugasnya, Seksi Dokumentas membagi kerja dalam dua Kelompok Kerja, yaitu: Pokja Koleksi Batuan dan Mineral, dan Pokja Koleksi Fosil.

Fasilitas dan Koleksi Museum Geologi
Fasilitas penunjang, baik gedung maupun peralatan dan perlengkapan yang dimiliki oleh Museum Geologi tergolong lengkap, karena pada tahun 1999 pernah mendapat bantuan dari JICA (Japan International Cooperation Agency) senilai 754,5 juta yen untuk merenovasi gedung. Setelah selesai, gedung yang beberapa bulan ditutup untuk umum selama masa renovasi, dibuka kembali dan diresmikan oleh Wakil Presiden RI, Megawati Soekarnoputri pada tanggal 23 Agustus 2000.

Hasil renovasi tahun 2000 ini menjadikan museum memiliki 3 kelompok ruang peragaan, yaitu: Kelompok Sejarah Kehidupan, Kelompok Geologi Indonesia, dan Kelompok Geologi dan Kehidupan Manusia. Selain itu ada juga ruang dokumentasi untuk menyimpan koleksi secara lebih memadai agar mudah diakses oleh pengguna, baik masyarakat umum, peneliti maupun grup industri.

Ketiga kelompok ruang peragaan tersebut berada pada lantai I dan II gedung museum. Lantai pertama terbagi menjadi 3 ruang utama, yaitu: ruang orientasi di bagian tengah, ruang sayap barat dan ruang sayap timur. Pada bagian ruang Orientasi terdapat peta geografi Indonesia dalam bentuk relief layar lebar yang menayangkan kegiatan geologi dalam bentuk animasi, bilik pelayanan informasi museum serta bilik pelayanan pendidikan dan penelitian.

Selanjutnya, adalah Ruang Geologi Indonesia yang berada di bagian sayap barat gedung museum. Di dalam Ruang Geologi Indonesia terdapat beberapa bilik yang menyajikan informasi, berupa: (1) hipotesis terjadinya bumi di dalam sistem tata surya1; (2) maket model gerakan lempeng-lempeng kulit bumi yang menggambarkan tatanan tektonik regional pembentuk geologi Indonesia berdasarkan teori tektonik lempeng karena Indonesia terletak pada pertempuan tiga lempeng: Lempeng Eurasia, Lempeng Pasifik, dan Lempeng Indo-Australia; (3) gambaran keadaan geologi Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Papua, dan Kepulauan Maluku; (4) fosil-fosil manusia purba2; (5) beragam jenis batuan (beku, sedimen, malihan), sumber daya mineral yang ada di setiap daerah, dan susunan kristalografi dalam bentuk panel dan peraga asli; (6) kegiatan penelitian geologi Indonesia termasuk peralatan atau perlengkapan lapangan, sarana pemetaan, serta hasil akhir kegiatan berupa peta geolologi, geofisika, gunung api, geomorfologi, seismotektonik dan publikasi-publikasi sebagai sarana pemasyarakatan data dan informasi geologi Indonedia; (7) gambaran beberapa gunung berapi aktif di Indonesia, seperti: Tangkuban Perahu, Krakatau, Galunggung, Merapi, dan Batu; (8) maket kompleks Gunung Bromo-Kelud-Semeru; dan (9) beberapa batuan hasil kegiatan gunung api yang tertata rapi di dalam lemari kaca.

Sedangkan pada bagian sayap timur lantai I gedung museum digunakan sebagai Ruang Sejarah Kehidupan yang memamerkan: (1) sejarah perkembangan makhluk hidup dari zaman primitif hingga modern; (2) panel-panel gambar tentang awal terbentuknya bumi sekitar 4,6 milyar tahun yang lalu, beberapa milyar tahun sesudahnya ketika bumo sudah mulai tentang, dan gambaran ketika bumi sudah mulai dihuni oleh makhluk hidup bersel-tunggal; (3) replika fosil Tyrannosaurus Rex Osbon dengan panjang 19 meter, tinggi 6,5 meter dan berat 8 ton yang diperkirakan telah hidup pada masa Mesozoikum Tengah hingga Akhir atau sekitar 210-65 juta tahun lalu; (4) gambaran evolusi mamalia yang hidup pada zaman Tersier (6,5-1,7 juta tahun lalu) dan Kuarter (1,7 juta tahun lalu hingga sekarang) yang terekam baik melalui fosil-fosil binatang menyusui (gajah, badak, kerbau, kuda nil) dan hominid yang ditemukan di beberapa tempat di Pulau Jawa; (5) panel dan maket penampang stratigrafi sedimen Kuarter daerah Sangiran, Trinil, dan Mojokerto; (6) fosil dan replika tengkorak manusia purba yang ditemukan di Indonesia dan beberapa tempat di dunia serta artefak yang digunakan; (7) panel mengenai sejarah pembentukan Danau Bandung, fosil ikan dan ular yang ditemukan pada lapisan tanah bekas Danau Bandung, dan artefak-artefak bekas manusia prasejarah yang menghuni sepanjang tepian Danau Bandung; dan (8) informasi tentang proses pembentukan fosil (batubara dan minyak bumi) serta keadaan lingkungan purba.

Pada lantai kedua bangunan museum dibagi menjadi 3 ruangan utama, yaitu: ruang barat, ruang tengah dan ruang timur. Ruang barat dipakai oleh staf museum untuk menjalankan tugas-tugasnya, sedangkan ruang tengah dan timur digunakan sebagai ruang peraga yang dinamakan Ruang Geologi dan Kehidupan Manusia.

Ruang tengah lantai kedua Museum Geologi memamerkan: (1) beberapa contoh batuan asal Papua yang tertata rapi dalam lemari kaca; (2) miniatur menara pemboran minyak dan gas bumi; dan (3) maket pertambangan emas terbesar di dunia yang berada di Pegunungan Tengah Papua. Dalam maket ini terdapat tambang Gransberg yang mempunyai cadangan sekitar 2,286 miliar ton, bekas tambang Ertsberg (Gunung Bijih) yang ditutup pada tahun 1988, dan gabungan beberapa tambang terbuka dan bawah tanah aktif yang memberikan cadangan bijih sebanyak 2,5 miliar ton.

Adapun ruang timur atau sayap timur lantai kedua Museum Geologi dibagi lagi menjadi 7 ruang kecil yang memberikan informasi tentang aspek positif dan negatif tatanan geologi bagi kehidupan manusia. Rincian ketujuh ruang pameran tersebut adalah: ruang pertama menyajikan informasi tentang manfaat dan kegunaan mineral bagi manusia serta panel gambar sebaran sumberdaya mineral di Indonesia; ruang kedua menampilkan rekaman kegiatan eksplorasi dan eksploitasi sumberdaya mineral; ruang ketiga menyajikan informasi tentang pemakaian mineral dalam kehidupan sehari-hari; ruang keempat menampilkan cara pengolahan dan pengelolaan komoditi mineral dan energi; ruang kelima memaparkan informasi tentang berbagai jenis bahasa geologi seperti tanah longsor, letusan gunung api dan lain sebagainya; ruang keenam menyajikan informasi tentang aspek positif geologi terutama berkaitan dengan gejala kegunungapian; dan ruang ketujuh menjelaskan tentang sumberdaya air dan pemanfaatannya serta pengaruh lingkungan terhadap kelestarian sumberdaya tersebut.

Sebagai catatan, selain ruang peragaan yang berada di dalam gedung, pada tahun 2011 Museum Geologi melengkapi koleksinya dengan Taman Batu Geologi. Taman seluas 400 meter persegi di depan museum ini diresmikan oleh Kepala Badan Geologi M Suchyar di sela-sela peringatan Hari Bumi 2011. Tujuannya, selain untuk menyimpan koleksi berupa batuan khas Nusantara yang jumlahnya sekitar 30 jenis dengan nilai yang cukup mahal, juga untuk mengetahui siklus batuan di Indonesia. (gufron)

Sumber:
____________________________________
1. Konon, bumi terbentuk sekitar 4.600.000.000 tahun lalu yang awalnya masih berupa bola api yang mengalami akulasi panas akibat kontraksi gravitas peluruhan radioaktif dan hujan mikrolit. Lambat laun inti bumi yang terdiri dari cairan besi dan nikel mulai memisahkan diri dari mantel bumi. Seiring dengan itu, terjadi penguapan gas besar-besaran dari dalam bumi bersama-sama dengan hidrogen dan helium membentuk atmosfer positif yang menyebabkan proses pendinginan secara berangsur-angsur dan membentuk kerak bumi. Masa pembentukan kerak bumi yang berlangsung kira-kira 3.800.000.000 ini dinamakan Masa Arkeozoikum dan merupakan awal munculnya kehidupan di dalam samudera dengan ditemukannya fosil Iyanovacteria dan Stromatin.

Setelah Masa Arkeozoikum berakhir, 2,5 miliar hingga 590 juta tahun lalu timbul masa Protozoikum yang ditandai dengan perkembangan hidrosfer dan atmosfer serta dimulai kehidupan yang lebih kompleks. Kedua zaman diatas secara umum dikenal dengan nama masa Prokambium.

Masa selanjutnya adalah Paleozoikum yang dibagi menjadi 6 zaman, yaitu: (1) Zaman Kambirum (590-500 juta tahun lalu) yang menandakan bumi masih berbentuk lautan dengan sebuah daratan yang disebut Ondawana yang merupakan cikal bakal benua Afrika, Asia, Australia, Antartika, dan lain sebagainya; (2) Zaman Ordovisium (500-440 juta tahun lalu) ditandai dengan daratan Gonswana masih menutupi celah-celah samudera, meluapnya samudera hingga terjadi zaman es; (3) Zaman Selur (440-410 juta tahun lalu), terjadinya pembentukan kereta pegunungan yang melintasi daerah Skandinavia, Skotlandia, dan pantai Amerika Utara; (4) Zaman Devon (410-360 juta tahun lalu) ditandai dengan menurunnya air samudera sehingga menyebabkan terbentuknya daerah yang sekarang menjadi Eropa Timur dan Greenland; (5) Zaman Karbon Kwali (360-260 juta tahun lalu) ditandai dengan penyatuan benua membentuk daratan yang iklim daerahnya bergantung pada letak geografis dan astronomisnya masing-masing; dan (6) Zaman Perme (260-250 juta tahun lalu) ditandai dengan pembentukan Antartika dan Afrika karena air mulai menyurut sehingga menyebabkan terjadinya iklum kering gurun pasir di daerah utara.

Kemudian Masa Mesozoikum yang terbagi menjadi 3 zaman, yaitu: (1) Zaman Tiras (250-210 juta tahun lalu), terjadi pergeseran Benua Pangea ke arah utara dan lembaran-lembaran es di daerah selatan mulai mencair; (2) Zaman Jura (210-140 juta tahun lalu), ditandai terpecahnya Benua Pangea menjadi beberapa bagian. Daratan yang sekarang menjadi Amerika Utara memisahkan diri dari Afrika, Amerika Selatan memisahkan diri dari daratan Antartika dan Australia; dan (3) Zaman Kapur (140-65 juta tahun lalu), ditandai dengan terlepasnya India dari Afrika daratan menuju ke Asia.

Terakhir, Masa Konozoikum yang terbagi menjadi 6 zaman, yaitu: (1) Kala Paleosin (67-56,7 juta tahun lalu), ditandai dengan kegiatan magma secara intensif, busur lava yang besar dan hujan meteorit. Pada kala ini mulai muncul hewan primata, burung dan reptilia; (2) Kala Eosen (56,7-35,5 juta tahun lalu) ketika Benua Afrika menabrak Benua Eropa sementara India masih bergerak menuju Asia dan mengangkat Pegunungan Alpen dan Himalaya. Tekanan antarbenua tersebut membentuk cekungan samudera dan menyebabkan turunnya permukaan air laut; (3) Kala Oligosen (35,5-24 juta tahun lalu) ditandai dengan daratan yang kuan meluas dan pergerakan kerak bumi terjadi di Benua Amerika dan Eropa; (4) Kala Miosen (24-5 juta tahun lalu) ditandai dengan semakin luasnya padang rumpun dan semakin berkurangnya hutan; (5) Kala Pliosen (5-1,8 juta tahun lalu) ditandai dengan semakin berkurangnya jumlah tumbuhan karena cuaca dingin; dan (6) Kala Plestosen (1,8-0,01 juta tahun lalu) ditandai oleh beberapa kali glasiasi (zaman es) yang menutupi sebagian besar Eropa, Amerika Utara, Asia Utara, pegunungan Alpen, Himalaya, dan Cherpathia.

2. Fosil-fosil manusia yang ada di Museum Geologi diantaranya adalah: (1) Meganthropus Paleojavanicus yang bercirikan tulang pipi tebal, tonjolan tulang kepala tajam, telah berdiri tegak, dan tempat pelekatan bagi otot-otot yang sangat kuat; (2) Phitecanthropus Erectus yang bercirikan tinggi antara 165-180 sentimeter, tubuh tegap, muka memiliki tonjolan, hidung lebar, tengkorak belakang kepala agak menyudut, serta isi tengkorak berkisar antara 750-1000 cc; dan (3) Homo Sapiens yang tingginya antara 130-210 sentimeter, mukanya datar dan lebar, akar hidung lebar, bagian mulut agak sedikit menonjol, dahi membulat, rahang dan gigi mengecil, serta isi tengkorak antara 1350-1450 cc.