Museum Mandala Wangsit Siliwangi

Daya tarik Kota Bandung bukan hanya terletak pada keadaan alam, tempat-tempat yang digunakan oleh masyarakatnya dalam beraktivitas sehari-hari atau para perempuannya yang terkenal cantik-cantik ^_^, tetapi juga pada bangunan-bangunan tua bersejarah yang tersebar di wilayahnya. Salah satu dari sekian banyak bangunan tua bersejarah yang saat ini dijadikan obyek wisata adalah Museum Mandala Wangsit Siliwangi yang terletak di Jalan Lembong1 No. 38, Kota Bandung.

Museum yang khusus digunakan untuk menyimpan berbagai jenis senjata ini namanya diambil dari kata Mandala Wangsit yang berarti tempat untuk menyimpan amanah, petuah atau nasihat. Adapun Siliwangi adalah nama Raja Kerajaan Pakuan Padjadjaran yang konon berwibawa, arif, dan bijaksana dalam menjalankan ronda pemerintahannya. Jadi, Mandala Wangsit Siliwangi dapat diartikan sebagai tempat untuk menyimpan amanah, petuah atau nasihat dari para pejuang masa lalu kepada generasi penerus melalui benda-benda yang ditinggalkannya, dalam hal ini adalah senjata-senjata yang digunakan ketika mereka bertempur untuk merebut kemerdekaan Indonesia.

Sejarah Museum
Museum Mandala Wangit Siliwangi menempati areal seluas 4.176 meter persegi dengan luas bangunannya sekitar 1.674 meter persegi. Bangunan museum yang bergaya arsitektur late romanticism ini bukanlah bangunan baru yang langsung difungsikan sebagai museum, melainkan bangunan tua yang dibangun pada tahun 1920-1915 sebagai tempat tinggal perwira Belanda.

Setelah bangsa Indonesia merdeka bangunan diambil alih dan digunakan oleh pasukan Divisi Siliwangi sebagai markas Militaire Akademie Bandung dari tahun 1949 hingga 1950. Pada awal 1950, tepatnya tanggal 23 Januari, markas Divisi Siliwangi pertama ini pernah menjadi sasaran utama serangan Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) di bawah pimpinan Kapten Raymond Westerling. Dalam peristiwa tersebut gugur sebanyak 79 prajurit TNI/Siliwangi, termasuk diantaranya Mayor Adolf Lembong.

Saat situasi politik dan keamanan dalam negeri cukup kondusif, 16 tahun kemudian, tepatnya pada tanggal 23 Mei 1966 pihak Kodam III/Siliwangi menjadikan markas Militaire Akademie Bandung menjadi sebuah museum yang diberi nama Mandala Wangsit Siliwangi. Peresmiannya dilakukan oleh Panglima Divisi Siliwangi waktu itu, Kolonel Ibrahim Adjie. Tujuannya adalah sebagai wadah pelestarian dan pewarisan nilai-nilai kejuangan ’45 kepada generasi muda agar kesadaran serta penghayatan terhadap sejarah perjuangan bangsanya tetap utuh.

Satu dekade kemudian, agar dapat menampung banyak koleksi dan lebih menarik minat pengunjung museum direnovasi serta dibangun lagi gedung baru berlantai dua. Selesai pembangunan, tanggal 10 November 1980 gedung diresmikan untuk kedua kalinya oleh Pangdam XV/Siliwangi, Mayjen Yoga Sugama yang prasastinya ditandatangani oleh Presiden RI Soeharto.

Koleksi Museum Mandala Wangsit Siliwangi
Sesuai dengan tujuannya yaitu sebagai wadah pelestarian dan pewarisan nilai-nilai kejuangan kepada para generasi muda, maka koleksi Museum Mandala Wangsit Siliwangi adalah benda-benda yang berhubungan dengan perjuangan rakyat Indonesia, khususnya prajurit TNI, dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Benda-benda tersebut diantaranya adalah: (1) lukisan peristiwa Bandung Lautan Api; (2) koleksi-koleksi milik Huseun Somaprawira; (3) bendera dan lambang-lambang kesatuan; (4) foto-foto perjuangan dari masa revolusi fisik tahun 1945 hingga 1949; (5) foto-foto mantan Panglima Siliwangi; (7) tanda pangkat, lencana, Panji Siliwangi, mata uang, dan peta; (8) harimau yang diawetkan sebagai simbol dari pasukan Siliwangi; (9) sebuah ambulance yang dijuluki Si Gajah atau Si Dukun karena dianggap telah berjasa selama operasi penumpasan gerakan DI/TII S.M. Kartosuwiryo di daerah Majalaya (Kampung Suni, Rancakole, Ciekek, dan Talaga) antara tahun 1957 hingga 1962; (10) sebuah jubah milik Kyai Agung Caringin yang konon apabila dikenakan dapat membuat si pemakai menjadi tidak terlihat; (11) seragam asli tentara Indonesia yang dahulu dipakai berperang lengkap dengan peralatannya, seperti sepatu bot, botol minuman, dan helm; (12) berbagai macam senjata, baik yang tradisional maupun modern, seperti: keris, kujang, tombak, panah, belati, samurai, pedang, golok, pedang bambu, mebelair, senjata api, meriam, bom molotov, dan canon; (13) storyline atau diorama jalan peristiwa Palagan Bandung 1945-1946, Perang Kemerdekaan 1947-1949, dan perang pasca kemerdekaan; dan (14) kendaraan tempur yang dipamerkan secara out dor seperti tank dan panser.

Koleksi-koleksi tersebut (kecuali kendaraan) dikelompokkan dan disimpan dalam beberapa ruangan yang menggambarkan situasi pada masa atau periode tertentu. Ruangan pertama dinamakan Ruang Pergerakan Nasional Indonesia (1918-1944) yang menyimpan beduk dari daerah Ciwamarame (Garut), berbagai macam jenis kujang, jubah yang pernah dipakai oleh Kyai Agung Caringan, peralatan dan perlengkapan debus, tong-tong yang berfungsi sebagai pengingat waktu sholat, serta lukisan-lukisan.

Ruangan kedua disebut Ruang Detik-detik Proklamasi yang menyimpan senjata bambu runcing, bendera yang dikibarkan di Bandung ketika Proklamasi, replika teks Proklamasi, lukisan-lukisan perjuangan tahun 1945, serta benda-benda yang digunakan oleh Presiden Soekarno dan kawan-kawan ketika diasingkan ke Rengasdengklok seperti meja, kursi, teko, dan cangkir.

Ruangan ketiga adalah Ruang Palagan Bandung (1945-1946), berisi peninggalan-peninggalan tentara pejuang kemerdekaan di Bandung, seperti lukisan, seragam, baret, tanda pangkat, peta perjuangan Jawa Barat, maket perjuangan tentara di Jawa Barat, peralatan komunikasi waktu itu, dan lain sebagainya.

Ruangan keempat adalah Ruang Persenjataan yang menyimpan berbagai macam senjata, baik yang tradisional maupun modern. Dan, ruang kelima dan keenam digunakan untuk menyimpan dokumen-dokumen, replika persembunyian Kartosuwiryo, serta foto-foto dan lukisan-lukisan perjuangan dan pergerakan nasional.

Sebagai catatan, selain ruang pamer pihak museum juga menyediakan sejumlah fasilitas penunjang bagi pengunjung, seperti perpustakaan, ruang gudang koleksi, ruang bengkel/preparasi, toko/koperasi, tempat penitipan barang, mushola, area parkir, dan toilet.

Apabila anda berminat, Museum Mandala Wangsit Siliwangi dibuka untuk umum dari hari Senin hingga Jumat, dengan rincian: Senin hingga Kamis pukul 08.00-13.00 WIB dan Jumat pukul 08.00-11.00 WIB. Sedangkan untuk dapat memasuki museum, anda hanya dikenakan biaya sebesar Rp.2.000,00. Dan, selama di dalam museum harus mematuhi beberapa ketentuan, seperti: (1) tidak boleh makan, minum, atau merokok; (2) membuang sampah dan meludah smbarangan; (3) membawa tas dan benda-benda lain sejenisnya; (4) membawa senjata tajam, senjata apu atau amunisi; (5) melakukan pemotretan tanpa seizin Kabintaldam III/Slw; dan (6) membawa, memindahkan, atau mengambil benda-benda koleksi museum. (gufron)

Sumber:
__________________________
1. Nama Jalan Lembong (dahulu Oude Hospitaalweg) diambil dari nama Letnan Kolonel Lembong, salah satu prajurit Divisi Siliwangi yang menjadi korban dalam peristiwa kudeta Angkatan Perang Ratu Adil yang dipimpin oleh Kapten Raymond Westerling pada tanggal 23 Januari 1950.